10
Alasan Puan Maharani Matikan Mikrofon Saat Rapat

Alasan Puan Maharani Matikan Mikrofon Saat Rapat

Pada Selasa (24 Mei 2022), Ketua DPR Puan Maharani membacakan retorika lesbian, gay, biseksual, dan transgender saat seorang anggota DPR menghadiri rapat inti di Gedung DPR Sennayan, Jakarta Pusat. Aku mematikan mikrofon lagi. (LGBT). Ia adalah anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRAminAK yang mengajukan pernyataan bahwa hukum pidana mengatur masalah LGBT.

“Penting untuk menyetujui amandemen undang-undang pidana yang mengatur pengembangan kejahatan martabat yang lengkap, terpadu dan komprehensif, termasuk tindakan yang melibatkan kekerasan seksual,” kata Amin. Tiba-tiba aku tidak bisa mendengar suara Amin. Rupanya, Mike di depan kursi Amin dimatikan oleh ketua konferensi.

Puan pun langsung memutuskan rapat paripurna berakhir. “Yang terhormat para anggota dewan yang kami muliakan dengan demikian selesailah rapat paripurna hari ini, selaku pimpinan rapat kami menyampaikan,” kata Puan yang videonya viral di lini masa Twitter dikutip Republika di Jakarta, Jumat (27/5/2022).

“Masih dua menit pimpinan, terakhir penutup pimpinan,” kata Amin mencoba menginterupsi.

Puan terus mengabaikan interupsi tersebut. Dia beralasan dewan sudah rapat tiga jam dan itu pun sudah molor 30 menit. Sehingga, ia perlu menutup waktu agar para dewan bisa segera sholat Dzuhur. “Jam telah memasuki waktu sholat Dzuhur,” kata putri Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri tersebut.

“Interupsi pimpinan,” kata Amin yang tidak mau mengalah.

Puan pun memberikan kesempatan Amin untuk bicara satu menit. Namun, ia menawar meminta empat menit. Karena tidak mencapai kesepakatan, akhirnya Puan mengetok palu menutup rapat paripurna.

Dalam catatan Republika, langkah Puan mematikan mikrofon anggota dewan sudah berlangsung tiga kali. Kasus kedua menimpa anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR, Guspardi Gaus. Momen itu terjadi saat rapat paripurna di kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (10/2/2021).

Sidang yang dipimpin Puan, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin, itu tiba-tiba ada interupsi dari Guspardi. Dia mengajukan gugatan terkait penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, yang membuat mikrofonnya mati. SKB tersebut mengatur enam keputusan utama pakaian seragam di sekolah negeri.

Guspardi tidak bisa menduga siapakah yang mematikan microphone saat ia sedang berbicara. “Kurang tahu awak (ketua atau wakil ketua yang mematikan mik). Jatah saya bicara lima menit, tapi kata orang yang memvideokan ini, belum lima menit, mik sudah mati, hee,” kata Guspardi saat dikonfirmasi Republika, Jumat (12/2/2021).

Guspardi mengaku, protesnya didasarkan atas membela budaya jilbab di tanah Minang. Dalam video yang viral, Guspardi menyebut, keluarnya SKB Tiga Menteri sangat berlebihan dalam menyikapi kejadian di satu sekolah di Padang. Anggota Komisi II DPR tersebut pun menuding, SKB tersebut bertentangan dengan Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, di mana negara memberikan kebebasan untuk menjalankan agamanya.

Kasus mikrofon saat anggota dewan berbicara pertama kali terjadi pada medio November 2020. Ketua DPR Puan Maharani sengaja mematikan microphone anggota Benny K Harman yang protes saat rapat membahas RUU Cipta Kerja. Kala waki ketua umum DPP Partai Demokrat itu mengkritik penyusunan UU Omnibus Law, tiba-tiba saja suara Benny tidak terdengar lagi. Ternyata, mikrofone dimatikan oleh Puan.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga mengkritik perilaku Puan yang gemar mematikan mikrofon kala anggotanya sedang berbicara. Bagi dia, kebiasaan Puan tersebut sangat tidak terpuji. Dia menganggap, Puan otoriter dan semena-mena kala memimpin rapat.

Dia mengingatkan Puan harus memfasilitasi jika memang ada anggota dewan yang menyampaikan pendapat. “Kiranya Puan harus menyadari dirinya bukan atasan dari anggota DPR RI. Karena itu, Puan tidak boleh mengkebiri hak konstitusi anggota DPR RI,” kata Jamiluddin.